Perangkat yang mendukung kolaborasi digital

Kolaborasi Digital Bantu UMKM Bertahan di Tengah Pandemi

Transformasi digital tidak hanya meningkatkan produktivitas namun juga merangsang kolaborasi antar UMKM.

Di era pandemi, pertumbuhan bisnis UMKM maupun korporat menghadapi banyak hambatan serta keterbatasan. Namun, kolaborasi digital dapat menjadi jawaban bagi tantangan ini.

Seiring dengan semakin banyaknya perusahaan yang memulai transformasi digital, kolaborasi pun menjadi hal yang tidak terhindarkan. Pasalnya, cyberspace merupakan ruang yang sangat dinamis di mana banyak pihak dapat merealisasikan inovasi-inovasi baru, termasuk dalam hal bisnis.

Keterbatasan jarak dan waktu bukanlah masalah dalam melancarkan kolaborasi digital. Inilah mengapa kolaborasi digital dapat menjadi strategi ampuh untuk tetap mengembangkan bisnis Anda selama pandemi.

  • Memahami kolaborasi digital
  • Jenis-jenis kolaborasi digital
  • Strategi dan sarana kolaborasi digital

Mengupas Seputar Kolaborasi Digital

Sebelum membahas mengenai strategi kolaborasi dalam ranah digital yang paling tepat untuk bertahan di era pandemi, kita harus memahami terlebih dahulu makna dari kolaborasi digital.

Secara harfiah, kolaborasi digital adalah upaya memanfaatkan pesatnya perkembangan teknologi untuk saling berkolaborasi dan mengembangkan potensi.

Kolaborasi digital memiliki proses dan hasil yang sangat berbeda jauh dengan kolaborasi tradisional (tanpa ada pengaruh teknologi) karena lingkungan cyberspace yang sangat dinamis.

Pembentukan jejaring melalui kolaborasi memungkinkan para pihak yang terlibat di dalamnya untuk mewujudkan capaian lebih besar dibanding melakukannya sendiri.

Manusia adalah makhluk sosial. Seiring dengan perkembangan zaman, kita berkembang menjadi makhluk sosial digital.

Pandemi global Covid-19 mengalihkan seluruh pusat perhatian dunia ke ranah digital. Selama lebih dari setahun, berbagai macam kegiatan telah berpindah ke cyberspace. 

Mulai dari kegiatan belajar-mengajar, kegiatan perdagangan, hiburan, hingga sebagian besar aktivitas bisnis yang biasanya dilakukan di perkantoran sekarang dilakukan dari rumah.

Meski sebagian besar masyarakat dunia mengalami kecanggungan di periode awal transisi ini, saat ini kita telah berhasil beradaptasi dengan baik terhadap ‘kenormalan baru’ atau ‘new normal’. Tidak sedikit bisnis yang semakin berkembang setelah transisi ke dunia digital. Meski banyak pula yang tidak mampu bertahan di tengah situasi yang kian tak menentu.

Tantangan terbesar dari aturan kenormalan baru ini sebenarnya paling keras menghantam bisnis tradisional yang belum mengenal, apa lagi mengimplementasikan, transformasi digital.

Bagi sebagian besar bisnis yang masih beroperasi di luar jaring (luring), pandemi adalah mimpi buruk yang membuat mereka kehilangan pelanggan karena sebagian besar masyarakat harus tinggal di rumah.

Lalu, mengapa masih ada bisnis yang berjalan, bahkan berkembang pesat?

Karena, selain telah melakukan transformasi digital sejak periode pra-pandemi, bisnis yang bertahan tersebut juga memperkuat jaringan, strategi, dan inovasi melalui kolaborasi.

Jaringan kolaborasi digital atau dikenal juga dengan Digital Collaboration Network (DCN) mendorong pertumbuhan ekonomi melalui shared knowledge dan juga resource antar pelaku bisnis.

Pada akhirnya, para pelaku bisnis yang bertemu di dalam DCN akan saling berinteraksi dan berasosiasi untuk menghimpun kekuatan yang dapat mengantarkan mereka bersaing di pasar internasional.

Merangsang Kultur yang Inovatif

Inovasi merupakan hal yang krusial dalam mengembangkan jenis bisnis apa pun. Pasalnya, tidak semua bisnis dapat menciptakan inovasi. Tidak sedikit bisnis yang terjebak dalam bottleneck dan berakhir dengan duplikasi.

Inovasi membutuhkan keterlibatan para karyawan dalam setiap tahapannya. Dalam hal ini, kultur perusahaan berperan penting untuk membuat karyawan lebih engage dalam proses operasional.

Studi Deloitte terhadap iklim berbisnis di Eropa menunjukkan bahwa perusahaan yang paling inovatif memiliki tingkat kepuasan karyawan yang tinggi. Para karyawannya tidak lagi dipusingkan dengan proses birokrasi yang bertele-tele dan sistem komunikasi yang rumit.

Artinya, inovasi dan kreativitas yang dibutuhkan di dalamnya dapat terangsang melalui efektivitas dan fleksibilitas bagi karyawannya. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan efektivitas tersebut adalah dengan memanfaatkan infrastruktur kolaborasi.

Dalam studi yang sama, ditemukan bahwa perusahaan yang inovatif adalah perusahaan yang juga kolaboratif. Artinya, kultur perusahaan membiasakan para karyawannya untuk dapat berkolaborasi tanpa perlu menghabiskan waktu lama dalam perjalanan yang jauh untuk sekedar berdiskusi.

Perusahaan-perusahaan inovatif di Eropa telah berhasil memanfaatkan infrastruktur kolaborasi yang berperan penting dalam menumbuhkan ide-ide baru dan cara-cara baru agar karyawan dapat lebih produktif.

Strategi dan Sarana Kolaborasi Digital

Lalu, bagaimana menerapkan strategi kolaborasi digital terbaik untuk bertahan dan tetap berkembang selama pandemi? Dengan pemanfaatan sarana yang baik.

Namun, sebelum memanfaatkan sarana kolaborasi digital terbaik, pastikan dulu bahwa kultur perusahaan telah terbangun dengan sehat di mana semua ide didengar dan dihargai.

Sebagai pemimpin, Anda harus mampu membentuk tim yang kohesif. Dimulai dari koneksi sosial yang menciptakan rasa saling percaya antara anggota tim Anda.

Anda juga perlu memahami makna koneksi sosial dalam konteks transformasi digital, di mana interaksi tidak harus terjadi secara tatap muka saja namun juga di berbagai kanal digital.

Dapat dikatakan, tim yang kohesif adalah yang saling terbuka dan saling menghargai aktivitas masing-masing di ranah digital.

Pembatasan akses digital platform, larangan memasang perangkat lunak di perangkat kantor, hingga kualitas jaringan internet yang buruk dapat menjadi faktor yang menghambat kohesivitas tim Anda.

Setelah terbentuk kultur yang saling terbuka dan saling percaya, barulah Anda dapat memanfaatkan sarana dan pra-sarana yang dapat meningkatkan produktivitas.

Terdapat banyak sekali sarana kolaboratif yang dapat Anda temukan di cyberspace. Untuk menentukan tools terbaik bagi bisnis Anda, lakukan identifikasi permasalahan terlebih dahulu.

Apa saja aspek yang selama ini menghambat tim Anda untuk menjadi lebih produktif dan inovatif?

Apakah Anda membutuhkan alat konferensi video agar tim Anda tetap dapat terhubung aman dengan aman dari perangkat mana pun?

Ataukah banyaknya projects membuat proses komunikasi terlalu tumpang-tindih dengan manajemen pembagian tugas yang berantakan?

Terdapat solusi dari setiap masalah dengan memanfaatkan sarana kolaborasi yang tepat bagi bisnis Anda. Kuncinya adalah tidak takut mencoba dan belajar dari setiap kegagalan. 

1 Comment

  • Cloud Computing untuk Tingkatkan Kolaborasi, Ini Caranya! -

    January 29, 2021 - 4:42 pm

    […] Seiring berkembangnya paparan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, cloud computing menjadi suatu istilah yang tak asing bagi kita. Namun, meski sering mendengar atau bahkan menyebutnya, apakah Anda sudah benar-benar memahaminya? Benarkah teknologi cloud computing adalah salah satu strategi meningkatkan efektivitas kolaborasi? […]

Leave A Reply

Registration

Forgotten Password?